Beranda ekonomi Pemkab Harus Bangun Pabrik CPO Demi Selamatkan Petani Sawit Mandiri

Pemkab Harus Bangun Pabrik CPO Demi Selamatkan Petani Sawit Mandiri

0

Loading

Sangatta (15/2-2019)

Harga tandan buah segar (TBS), khususnya di petani mandiri tetap rendah karena kapasitas produksi pabrik crude palm oil (CPO) perusahan terbatas, sementara TBS sendiri  sudah meningkat produksinya. Karena itu, perusahan membatasi pembelian TBS dari petani. Demikian dikatakan anggota DPRD Kutim, Arang jau, pada wartawan, beberapa waktu lalu.       

Arang Jau – anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Kutim.

“Rendahnya harga TBS  saat ini akibat  panen perusahan  berlimpah. Akibatnya,  perusahan yang memiliki pabrik crude palm oil  (CPO), sangat membatasi pembelian  TBS dari  petani, di luar  kebun kemitraanya. Jadi  keluhan  masyarakat akibat anjloknya  harga sawit, itu karena panen perusahan saat ini berlimpah. Perusahan pemilik pabrik sudah membatasi pembelian dari petani, karena panen mereka besar, makanya harga sawit itu turun di petani karena pembatasan pembelian oleh perusahan,” jelas Arang Jau, saat itu.

Namun, diakui harga sawit turun itu  hanya terjadi di masyarakat yang berstatus petani mandiri. Sebab untuk harga  sawit dari kebun kemitraan perusahan, masih tetap stabil, sesuai dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah provinsi sekitar Rp1300 per kg.

Disebutkan, sawit petani mandiri selama ini  yang beli adalah tengkulak. Tengkulak yang  jual ke pabrik. Namun karena pabrik membatasi pembelian,  tengkulak  tidak bisa jual lagi sawit, akibatnya harga turun. Sebagai penyambuang suara rakyat, masala ini telah disampaikan pada pemerintah agar  bisa menyampaikan masalah ini ke perusahan. Namun, hingga kini belum ada solusi, meskipun pemerintah sendiri yang telah menetapkan harga. “tapi ini masalah nasional, karena  kami hanya minta petani bersabar, semoga harga bisa kembali membaik,” harapnya.(ADV-DPRD KUTIM)