![]()
KAWAN saat kalian berada di desaku di pagi hari, kabut tebal hasil proses kondensasi uap air yang terperangkap di vegetasi hutan, mengumpulkan molekul uap air, membentuk gumpalan awan putih, yang seolah terbang rendah. Kawan yang baru pertama kaki bertandang ke desaku yang terletak di kali Gunung Lumut ini, pasti terkagum-kagum. Mereka mengumpamakan laksana sedang berada di sebuah negeri di atas awan.

Desaku ini memang terletak dalam kepungan hutan yang rindang. Rahmat dari taatnya kami menjaga hutan agar tetap ada. Hutan atau ‘alaas’ dalam bahasa Paser memiliki tata guna lahan lokal berdasarkan fungsi. Ada yang disebut Alaas Keroroyan untuk menyebut hutan rimba yang masih perawan. Alaas Mori yang artinya hutan keramat atau hutan sakral yang tidak boleh diganggu, Alaas Nareng yakni hutan yang dijaga dan dilindungi, tidak ada yang boleh mengambilnya.
Namun warga desa kami masih bisa berusaha menjumput rejeki dari hutan asal mengambil hasil hutan berupa damar, rotan dan madu di Alaas Senaken, hutan yang diperuntukkan untuk sumber penghidupan.
Ada juga yang dinamakan lati atau bekas ladang, yang masih muda disebut lati bura dan bekas ladang yang sudah tua (lati tuha) bisa dibuka kembali untuk berladang biasanya ditanami rotan. Begitu teratur ya kami menjaga hutan. Itulah sebabnya gumpalan kabut tebal eksotis masih betah menampakan keindahannya di Desa Rantau Buta.
Kawan pernah menyaksikan berbagai hasil kerajinan rotan dari Banjarmasin? Salah satu pemasoknya dari desa kami, Desa Rantau Buta. Tanaman Rotan tumbuh subur di desa kami, menjadi salah satu mata pencarian penduduk selain bertani dan bertanam karet. Rotan tersebut sudah dibelah-belah dan siap diolah menjadi kerajinan. Meski mengangkutnya harus menempuh kurang lebih 12 km menuju jalan poros Kalimantan Timur-Kalimantan Selatan. (bersambung/Inni Indarpuri – Kasubag Publikasi Biro Humas Setda Kaltim).






