![]()
Samarinda – “Indah tapi menyulitkan.” Begitulah kira-kira gambaran sektor pariwisata di Kalimantan Timur menurut anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Damayanti. Ia menilai kekayaan alam yang luar biasa di Bumi Etam tak sebanding dengan kemudahan akses menuju destinasi wisata yang masih jauh dari ideal.
Dalam pernyataannya pada Sabtu (24/5/2025), Damayanti menyampaikan bahwa sektor pariwisata Kaltim menghadapi tantangan berat berupa infrastruktur penunjang yang terbatas dan biaya transportasi yang tinggi. Hal ini membuat lokasi wisata unggulan seperti Pulau Maratua di Kabupaten Berau sulit dijangkau oleh wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
“Kalau kita lihat Kalimantan Timur ini dari sisi pariwisatanya untuk alam, itu kan sebenarnya bagus. Cuma lagi-lagi kita terkendala dengan infrastruktur untuk menuju ke sana. Ini yang perlu penataan yang lebih baik,” ucapnya.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan daerah-daerah di Pulau Jawa yang dinilai jauh lebih berkembang karena didukung akses transportasi yang mudah dan murah.
“Kenapa tempat wisata di Jawa begitu bagus, karena memang mudah. Mudah didatangi dengan harga murah meriah, beberapa tempat bisa langsung dikunjungi,” tambah Damayanti.
Destinasi seperti Maratua menurutnya kerap membuat wisatawan enggan berkunjung karena harus menempuh perjalanan darat yang panjang dengan infrastruktur yang belum memadai, sementara opsi transportasi udara juga sangat mahal.
“Kadang masyarakat malas ke tempat wisata, karena sulit. Kalau lewat darat butuh berjam-jam, kemudian ditambah lagi infrastrukturnya tidak bagus. Kalau lewat udara juga mahal banget,” ungkap politisi dari Fraksi PDI Perjuangan itu.
Damayanti menduga mahalnya biaya transportasi turut dipengaruhi oleh minimnya jumlah wisatawan, sehingga maskapai atau operator jasa transportasi kesulitan menutupi biaya operasional.
“Betul yang kamu bilang, karena mahalnya itu tadi, sehingga banyak wisatawan yang tidak tertarik. Kita yang lokal saja kadang mikir-mikir juga,” tuturnya.
Ia menilai, sejauh ini destinasi yang relatif mudah diakses hanyalah wilayah perkotaan seperti Balikpapan. Untuk itu, ia mendorong pemerintah daerah agar serius menata infrastruktur menuju objek wisata potensial di seluruh Kaltim.
“Ini yang menjadi atensi kita bersama, bagaimana dalam mensosialisasikan pariwisata kita itu bisa lebih booming. Tapi juga harus didukung dengan infrastruktur yang memadai, harus ada perhatian lebih soal ini,” pungkas Damayanti.
Dengan penataan akses yang lebih baik, potensi wisata Kaltim diyakini akan lebih mampu bersaing dengan daerah lain di Indonesia dan turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. (ADV).






