![]()
SUARAKUTIM.COM, SANGATTA – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) saat ini menghadapi tantangan ganda dalam bidang kesehatan. Pasalnya, hingga saat ini tercatat masih tingginya penyakit menular (PM) seperti Tuberkulosis (TBC), HIV/AIDS, dan Demam Berdarah Dengue (DBD).
Tidak hanya Penyakit Menular, tercatat juga adanya peningkatan kasus penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, obesitas, kesehatan jiwa dan kanker serviks. Hal ini diakibat adanya perubahan gaya hidup, kurangnya kesadaran deteksi dini, dan keterbatasan akses pemeriksaan rutin. Demikian diungkapkan Plt. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur, Sumarno.
“Berdasarkan data yang kami miliki pada Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur, diketahui pada tahun 2019 tercatat 6.628 warga suspect TBC, dengan 32 pasien meninggal dunia pada tahun 2022. Kemudian pada tahun 2024 ditemukan 140 kasus baru HIV, dan hingga Agustus 2025 tercatat 104 kasus baru HIV, di mana 35 % di antaranya perempuan usia produktif (20–39 tahun). Kasus pada perempuan meningkat karena faktor transmisi pasangan dan kurangnya pemeriksaan dini,” sebutnya.
Sementara pada Penyakit Tidak Menular (PTM), seperti hipertensi dan diabetes terjadi peningkatan di berbagai wilayah, khususnya pada ibu rumah tangga dan perempuan usia 30 tahun ke atas berdasarkan hasil skrining Posbindu PTM.
“Penyakit Tidak Menular (PTM), seperti hipertensi dan diabetes meningkat di berbagai wilayah, khususnya pada ibu rumah tangga dan perempuan usia 30 tahun ke atas berdasarkan hasil skrining Posbindu PTM,” jelasnya.
Selain itu, Sumarno juga menyebutkan jika kanker serviks menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan perempuan di Kutai Timur. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, kanker serviks termasuk dalam tiga besar penyebab kematian perempuan usia produktif.
“Namun, tingkat deteksi dini kanker serviks melalui pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) masih rendah karena berbagai faktor, seperti kurangnya informasi, rasa takut, atau stigma pemeriksaan organ reproduksi,” sebutnya.
Ditambahkan, pemeriksaan IVA tes adalah metode sederhana, efektif, dan murah untuk mendeteksi dini lesi pra- kanker serviks. Dengan hasil langsung yang bisa diketahui dalam waktu singkat, pemeriksaan IVA sangat cocok dilakukan di layanan primer seperti puskesmas dan kegiatan masyarakat.
“Pelaksanaan IVA tes secara masif di kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) menjadi langkah nyata dalam menurunkan angka kejadian kanker serviks dan meningkatkan kesadaran perempuan untuk menjaga kesehatan reproduksi,” pungkasnya.(Red-SK/ADV)







