![]()
SANGATTA (22/10-2020)
Dampak jangka panjang dari pandemi Covid-19, dipikirkan Dinas Kesehatan Kutim karena bisa menurunkan cakupan imunisasi bagi anak-anak. Rendahnya cakupan imunisasi dikhawatirkan bisa menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti mewabahnya campak, difteri, dan tuberkulosis yang lebih besar pada masa mendatang di luar Covid-19.
Kepala bidang pencegahan, pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kutim M Yusuf menyebutkan dampak lain dari Covid-19 adalah capaian imunisasi sangat rendah karena maasyarakat khawatir keluar rumah. “Dengan capaian imunisasi rendah, dikhawatirkan akan berdampak terhadap Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi atau PD3I, seperti hepatitis B, pertusis, difteri, haemophilus influenzae tipe B, campak dan tetanus,” terangnya.
Disebutkan, jika dibiarkan akan berpeluang menjadi KLB seperti difteri dimana target yang ingin kita dicapai seperti di tahun 2020 sebesar 71 persen untuk imunisasi dasar lengkap.” Nah jika ini tidak tercapai maka akan berpengaruh pada penyakit PD3I ini,” ungkap Yusuf.
Dikatakan, rendahnya tingkat imunisasi disebabkan karena masyarakat sulid dikumpulkan untuk melakukan imunisasi. Diakui Yusuf, hampir semua program Kesehatan saat ini bermasalah karena lebih prioritaskan ke Covid-19 karena lebih baik menyelamatkan nyawa orang lain dulu dari pada program yang lain.
Meskipun ada kekhawatiran itu, diakui, tetap mencapai target imunisasi lengkap dasar, pola pelayanan kini diubah. Ceranya, imunisasi tidak dilakukan di posyandu, yang selam ini terjadwal, tapi langsung di puskesmas. Dimana memang ada apetugas disiapkan. “Datang, langsung dilayani, setelah itu pulang agar tidak ada penumpukan pelayanan. Imunisasi juga gratis,” katanya.
Kini capaiannya masih terbilang bagus, namun yang masih terbilang rendah adalah imunisasi dikisaran umur 11 bulan keatas (Batuta) atau di bawah 3 tahun . “Minimal perdesa, standar imunisasinya 80 persen kita masuk tapi kita berharap KLB tidak terjadi misalnya seperti campak dan difteri,” sebut Yusuf.
Terkait anggaran imunisasi, diakui mencukupi meskipun sebelumnya sempat terseok-seok akibat wabah corona. “Keluar rumah aja takut, inikan sensitif anak-anak sangat beresiko. Jadi takut di imunisasi, selain itu petugasnya juga takut,inilah dampaknya dan persoalan ini seluruh Indonesia,” bebernya seraya tertawa.(SK2)






