![]()
KUTAI TIMUR – Ribuan warga Sangatta tampak khusyuk mengikuti rangkaian sholat istisqa’ dan do’a bersama yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur di Lapangan Upacara Kantor Bupati Kutim, Rabu (9/9/2026) pagi. Tampak hadir Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi, anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kutim, seluruh pejabat dan staf di lingkungan Pemkab Kutim, Tokoh Masyarakat, Alim Ulama, para guru, murid dan santri, serta masyarakat umum yang sudah mulai berdatangan ke lokasi pelaksanaan sholat sejak pukul 06.30 WITA.
Sholat istisqa’ yang dimulai pada pukul 08.00 WITA, bertindak sebagai imam sholat yakni ustadz Jamaluddin Salma dan petugas khotib yakni ustadz Hamdan Asrofi. Dalam isi khutbahnya, ustadz Hamdan Asrofi mengajak jama’ah sholat istisqa’ untuk merenungi mengapa nikmat hujan yang selama ini dirasakan manusia kemudian berubah menjadi bencana kemarau dan kekeringan yang berkepanjangan. Hamdan juga mengutip ayar dalam Al-Qur’an pada Surat Al-Anfal ayat 53, yang mengingatkan kerusakan akibat ulah manusia yang kemudian membuat Allah mengubah segala anugerah nikmat menjadi siksaan atau bencana.
”(Siksaan) yang demikian itu (perubahan nikmat menjadi musibah) adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa (nikmat) yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Kutipan ayat Al-Qur’an pada Surat Al-Anfal ayat 53 ini selaras dengan peringatan yang ada dalam hadist Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa dari sahabat Sauban (RA) mengatakan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, Sesungguhnya hamba Allah akan ditutup rezekinya sebab dosa yang dilakukan oleh hamba tersebut,” ucap ustadz Hamdan dalam isi khutbahnya.
Lanjutnya, manusia haruslah mengingat dan menyadari bahwa semua kejelekan, musibah dan bencana yang terjadi adalah akibat dosa manusia itu sendiri, termasuk musibah kemarau yang kini sedang terjadi. Jika mengingat banyaknya nikmat yang telah Allah berikan, maka tidak ada satupun manusia yang bisa menghitung-hitung satu persatu nikmat yang telah Allah berikan. Termasuk nikmat hujan yang selama ini dirasakan manusia dan saat ini nikmat hujan tersebut sudah lama tidak dirasakan karena kemarau panjang. Air hujan yang menjadi penyejuk raga, penyubur tanaman dan tumbuhan, mengairi ladang dan sungai-sungai, sumber minum manusia, hewan dan tumbuhan.
”Sebagaimana Imam Ghazali mengingatkan dalam kitab Ihya Ulumuddin, wahai umat manusia ingatkah ketika engkau melakukan sebuah maksiat, dosa atau kedurhakaan kepada Allah, pastilah maksiat kamu lakukan dengan anggota tubuh yang diberikan Allah kepada kita sebagai sebuah nikmat. Dan tubuh ini diberikan Allah kepada kita selain sebagai nikmat juga adalah sebagai sebuah amanah yang harus kita jaga sebaik-baiknya. Maka menggunakan nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk melaksanakan kemaksiatan adalah kekhufuran atau pengkhianatan serta kesesatan yang sangat nyata (kepada Allah). Maka seluruh anggota tubuh yang kita miliki dan pergunakan ini harus kita pertanggung jawabkan, maka perhatikan bagaimana kita menjaga nikmat dan amanah Allah tersebut. Karena setiap kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas amanat yang diberikan Allah kepada kita,” jelasnya.
Dari keterangan tersebut, ujar ustadz Hamdan haruslah manusia menyadari bahwa semua kesulitan yang sekarang manusia alami, sumbernya adalah maksiat dan dosa yang manusia itu perbuat sendiri. Karenanya, ia mengingatkan mengajak seluruh jama’ah yang hadir untuk memperbaiki diri dan bertaubat kepada Allah Ta’ala, agar Allah mengangkat azab yang diturunkan kepada manusia berupa kemarau dan kekeringan, dan memohon untuk dicurahkan hujan sebagai nikmat dan keberkahan bagi seluruh mahluk di bumi, khususnya di Kabupaten Kutai Timur.
Sebelum mengakhiri khutbahnya, ustadz Hamdan Asrofi memimpin do’a bersama agar Allah Ta’ala mengampuni dosa dan kesalahan yang telah dilakukan, menerima pertaubatan dan berharap serta memohon agar dicurahkannya hujan secara merata di bumi Kutai Timur. Rangkaian sholat istisqa’ dan do’a bersama ini kemudian ditutup dengan do’a bersama dipimpin oleh ketiga tokoh ulama di Kutai Timur yang mewakili dua unsur organisasi Islam, yakni Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah serta organisasi kemasyarakatan Islam Dewan Masjid Indonesia (DMI).(Adv/*/SK)









