Beranda kutim adv pemkab Kutim Bidik Pertumbuhan 6 Persen, Ekonomi Tak Lagi Bertumpu pada SDA

Kutim Bidik Pertumbuhan 6 Persen, Ekonomi Tak Lagi Bertumpu pada SDA

0

Loading

KUTAI TIMUR – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menargetkan pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5 hingga 6 persen pada 2027. Target tersebut dibarengi agenda transformasi ekonomi agar aktivitas perekonomian tidak terus bergantung pada sektor ekstraktif.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menyampaikan hal itu dalam pidatonya pada Sidang Paripurna DPRD Kutim dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Kutai Timur, di ruang sidang paripurna DPRD Kutim, Kamis (8/10/2026).

Ardiansyah mengatakan, tantangan ekonomi Kutim masih cukup besar. Salah satunya terlihat dari laju pertumbuhan ekonomi pada 2025 yang tercatat 1,05 persen.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena struktur ekonomi Kutim masih dipengaruhi sektor berbasis sumber daya alam, terutama pertambangan batu bara dan minyak.

“Target pertumbuhan ekonomi melalui RKPD 2027 kita arahkan pada kisaran 5 sampai 6 persen,” kata Ardiansyah dalam pidatonya.

Untuk mengejar target tersebut, Pemkab Kutim mendorong penguatan sektor ekonomi yang dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang. Di antaranya pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan kelautan, pariwisata, industri pengolahan hingga industri kreatif.

Ardiansyah menegaskan, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Kutim harus memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat. Pertumbuhan ekonomi, kata dia, tidak cukup hanya terlihat dalam angka statistik, tetapi harus mampu menciptakan nilai tambah di daerah.

“Pertumbuhan ekonomi harus mampu membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat pelaku usaha lokal, mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya.

Pemkab Kutim juga menetapkan target pertumbuhan ekonomi secara bertahap. Melalui perubahan RKPD 2026, pertumbuhan ekonomi diarahkan berada pada kisaran 2,40 hingga 2,90 persen sebelum ditingkatkan menjadi 5 hingga 6 persen pada RKPD 2027.

Ardiansyah menyebut transformasi ekonomi menjadi salah satu agenda penting pembangunan daerah. Pemerintah ingin sumber daya alam tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi ketika dieksploitasi, tetapi juga mampu menciptakan manfaat dalam jangka panjang.

Karena itu, pengembangan sektor non-ekstraktif akan terus didorong agar struktur ekonomi Kutim semakin beragam. Penguatan sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, pariwisata dan industri pengolahan diharapkan membuka ruang lebih besar bagi masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi.

“Semua target tersebut merupakan satu kesatuan. Pertumbuhan ekonomi harus menciptakan lapangan kerja, lapangan kerja harus meningkatkan pendapatan masyarakat, dan peningkatan pendapatan harus menurunkan kemiskinan,” jelasnya.

Dalam momentum HUT ke-27 Kutim, Ardiansyah juga mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi harus berjalan beriringan dengan pemerataan. Pemerintah tidak ingin pertumbuhan hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu, tetapi harus dirasakan masyarakat hingga kecamatan dan desa.

Ia menegaskan, arah pembangunan Kutim ke depan bukan sekadar mengejar pertumbuhan, melainkan membangun ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Pembangunan yang tidak hanya tumbuh tetapi juga merata, tidak hanya maju tetapi juga berkeadilan, tidak hanya menghasilkan angka tetapi juga menghasilkan kesejahteraan,” pungkasnya.(Adv/*/SK)