![]()
Matahari baru saja tergelincir dan sholat dzuhur baru saja ditunaikan, saat langkah kaki saya memasuki sebuah lingkungan asrama tentara atau yang biasa dikenal dengan sebutan Asrama Bukit milik Kodam VI Mulawarman yang berada di kawasan RT. 63 Kelurahan Baru Ilir, Balikpapan Barat. Terbentang sebuah spanduk yang tertempel di dinding sebuah mushola dan cukup mencuri perhatian bagi setiap pendatang yang baru memasuki daerah tersebut, yang bertuliskan ”Anda Memasuki Kawasan CGH (Clean, Green, Healthy) Proklim Semilir 2 yang digagas PT Pertamina Patra Niaga dengan menggandeng Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan.
Tak jauh kaki melangkah dari mushola asrama, tepatnya di Blok Ambon Asrama Bukit, terlihat sekumpulan ibu-ibu yang tergabung sebagai kader Bank Sampah Askit, sedang sibuk merapikan tumpukan kardus bekas, botol pastik dan sejumlah sampah rumah tangga non organik lainnya untuk dimasukkan ke dalam ruang gudang penyimpanan bank sampah.
Hasni, perempuan berumur 42 tahun yang menjadi Ketua Kader Bank Sampah Askit, menuturkan meski telah terbentuk sejak tahun 2015 silam, namun keberadaan bank sampah Askit baru mulai aktif pada tahun 2018. Dengan beranggotakan hanya 10 orang pada saat awal pembentukan, kini bank sampah Askit memiliki keanggotaan sebanyak 59 orang setelah berjalan selama 11 tahun.
”Alhamdulillah, kini kita sudah memiliki kader atau anggota yang terdata di bank sampah Askit sebanyak 59 orang, yang terdiri dari ibu-ibu yang bermukim di dalam asrama ini,” ujar Hasni.
Setiap 3 bulan sekali, puluhan kilo barang bekas dan sampah non organik yang telah dikumpulkan anggotanya tersebut dijual ke salah satu pengepul barang bekas. Dari hasil penjualan barang bekas inilah, menjadi pundi-pundi pemasukan bagi kas bank sampah serta ”cuan” bagi puluhan anggotanya.
”Biasanya rutin setiap 3 bulan sekali ataupun saat kondisi gudang bank sampah kami ini sudah penuh, kita kemudian menjual barang bekas yang sudah dikumpulkan ke pengepul barang bekas. Harganya per kilo setiap barang bekas berbeda-beda. Klo barang bekas elektronik seperti televisi, per kilonya bisa mencapai Rp 20.000. sementara yang termahal adalah sampah plastik yang dalam kondisi bersih, terutama tutup botol air mineral, lumayan harga belinya oleh pengepul, tapi selama kondisinya bersih dan tidak kotor. Setelah kita jual semua, hasil penjualan itu 30 persen masuk ke kas bank sampah dan sisanya kita bayarkan kepada setiap anggota, sesuai dengan catatan berat dan kodisi bersih atau kotor barang bekas yang mereka setorkan ke bank sampah. Jadi ada anggota yang mendapatkan puluhan ribu rupiah, ratusan ribu, ada juga yang hingga hampir satu juta,” jelas Hasni.
Meski demikian, diakui Hasni jika keberadaan bank sampah yang berada di dalam kawasan asrama tentara tersebut baru benar-benar aktif dan berprogres maksimal selama 1 tahun terakhir, setelah mendapatkan perhatian dari PT Pertamina Patra Niaga V Balikpapan yang hadir melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) Kampung Baru Ilir Mandiri, Indah dan Sejahtera (Kaliandra), khususnya dalam program pengeloaan lingkungan dan gaya hidup sehat.
”Dengan adanya program Kaliandra dari PT Pertamina Patra Niaga, kegiatan bank sampah kami ini lebih terarah. Karena melalui Pertamina, kami kini memiliki drop box untuk pengumpulan sampah plastik, khususnya untuk menampung sementara botol dan gelas mineral bekas. Kami juga punya bak filter sampah, jadi warga tidak asal membuang sampah, tetapi ikut memilah antara jenis sampah yang bisa di daur ulang, sampah organik dan non organik,” tutur perempuan yang kesehariannya juga selaku Ketua RT 63, Kelurahan Baru Ilir, Balikpapan Barat.
Dengan kehadiran Pertamina Parta Niaga, ke depannya Hasni berharap pertamina bisa membantu merenovasi bangunan gudang bank sampah milik warganya. Terlebih kondisi atap yang mulai bocor serta bangunan yang tidak permanen, menyebabkan sebagian barang bekas yang disimpan basah jika turun hujan. Hal ini menyebabkan sebagian barang bekas, terutama kardus berkas menjadi rusak dan menurunkan harga beli di tingkat pengepul.
”Kami berharap, pertamina bisa membantu merenovasi bangunan gudang bank sampah saat ini, karena jika hujan turun dengan deras sebagian barang-barang di dalamnya basah. Jika kardus yang basah maka nilai belinya akan sangat jatuh dan murah sekali di pengepul. Lantai gudang juga masih semen biasa dan lembab serta dindingnya hanya seng. Semoga permohonan kami ini bisa diakomodir dan dikabulkan oleh pihak pertamina patra niaga,” harap Hasni.
Tak hanya memberikan manfaat dengan menjadikan lingkungan lebih bersih, kehadiran bank sampah juga mejadi sumber berkah bagi puluhan anggotanya. Salah satunya Puput, ibu satu anak ini mengaku sangat terbantu dengan adanya bank sampah di lingkungan tempat tinggalnya. Menjadi anggota bank sampah Askit sejak 3 tahun terakhir, Puput mengaku jika melalui bank sampah, dirinya bisa mendapatkan pemasukan uang dari mengepul sampah non organik dan plastik, yang cukup membantu membiayai isi dapurnya.
”Alhamdulillah mas, klo sudah timbangan (sampah dijual ke pengepul) dan pembagian hasil penjualan, saya bisa dapat puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah, lumayan bisa buat tambah-tambah beli gula dan bumbu dapur di rumah,” ujar perempuan 29 tahun ini.
Menurut Puput, meski tidak terlalu besar nilai rupiahnya, namun hasil dari mengepul kardus bekas ataupun sampah plastik di bank sampah selama ini bisa untuk mengurangi uang belanja bulanan serta jajan bagi putranya.
”Lumayan lah mas, maklum istri ”Prajurit” kan. Jadi kita ini sebagai ibu-ibu juga harus pintar membantu suami. Bukan hanya rumah dan lingkungan menjadi bersih karena setiap ada sampah yang berserakan, pasti kita kumpulkan agar bisa menjadi ”cuan” lah. Anak juga klo ingin belanja yang ringan-ringan di warung, ada uangnya, Alhamdulillah,” ucap Puput.
Program pengelolaan lingkungan, terutama sampah ini juga memberikan edukasi atau pembelajaran bagi keluarganya, terutama kepada anaknya yang baru berumur 3 tahun, dengan cara mengenalkan pola hidup bersih dan sehat, terutama sejak dini membiasaan untuk tidak membuang sampah sembarangan.
”Anak sejak dini sudah kita ajarkan, klo makan atau minum, sisa sampahnya jangan dibuang sembarangan, tetapi dibuang ke tempat sampah. Setelahnya baru kita pilah, maka sampah yang bisa disetor ke bank sampah dan mama yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pupuk kompos. Ada juga sisa-sisa makanan yang bisa dijadikan pakan ternak ayam,” tuturnya.
Sementara itu, Lurah Baru ilir, Junaidi, mengapresiasi program CSR Pertamina Patra Niaga RU V, khususnya keberadaan bank sampah yang masuk dalam program Kaliandra. Dirinya menuturkan, sebagaimana arahan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, jika setiap kelurahan diamanatkan untuk membentuk 6 unit bank sampah. Sementara di Keluarahan Baru Ilir, baru memiliki 3 unit bank sampah.
”Terkait bank sampah di Askit ini, kami berharap masyarakat teredukasi bahwa sampa ini dihasilkan oleh masyarakat sendiri, sehingga masyarakat juga wajib bertanggung jawab dengan sampah yang mereka hasilkan, dengan cara mulai dari rumah mulai memilah sampah. Mana sampah organik, mana yang non organik dan sampah yang termasuk bahan berbahaya (B3). Sampah non organik, tentu bisa ditampung dan ditabung di bank sampah dan bisa menghasilkan uang jika dijual. Sedangkan sampah organik atau sisa-sisa makan bisa dijadikan kompos,” ujarnya.
Melalui program Kaliandra yang digagas bersama Pertamina, khususnya warga sehat dan lingkungan sehat, Junaidi mengaku sangat terbantu. Hal ini juga sudah sejalan dengan visi dan misi dari pemerintah kota. Keberadaan bank sampah Askit sendiri juga sudah dalam tahap penjajakan kerjasama dengan bank sampah induk di Kelurahan Baru Tengah. Dirinya juga berharap lima RT yang ada di Kelurahan Baru Ilir bisa bergabung menjadi anggota bank sampah di RT 63.
Diakuinya, merubah kebiasaan masyarakat khususnya dalam pengelolaan sampah rumah tangga sangatlah sudah. Selama ini masyarakat sudah terbiasa membuang seluruh sampah atau barang bekas ke tempat pembuangan sampah hingga ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara). Padahal pemerintah sudah menggalakan agar sampah yang dibuang ke TPS atau TPA hanya 50 persen. Sementara kondisi yang ada saat ini baru bisa terrealisasi antara 10-15 persen.
”Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan terutama dalam mengedukasi masyarakat terkait pengelolaan sampah ini. Kita harap masyarakat bisa teredukasi dengan adanya bank sampah dan bisa mengurasi jumlah porsi sampah yang terbuang di TPS hingga 50 persen, sebagaimana arahan dari pusat dan program pemerintah kota. Sementara hingga saat ini kita baru bisa merealisasikan antara 10-15 persen saja sampah yang terbuang di TPS,” ucap Junaidi.
Sementara itu, mewakili Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan, Rizqy Rayi, menuturkan jika pihaknya menargetkan untuk berupaya mereplikasi keberhasilan program Kaliandra 1, terutama dalam program kesehatan. Mulai dari pengelolaan kesehatan lingkungan, hingga pencegahan stunting di masyarakat.
”Kita tidak ingin masyarakat menganggap tabu masalah kesehatan, khususnya stunting. Kita ingin masyarakat peduli dan ikut andil. Dengan adanya keikutsertaan intervensi kesehatan oleh pertamina RU V, pada tahun 2026 ini ada target penurunan angka stunting. Di tahun 2024 lalu, angka stunting tercatat antara 15-21 jiwa dan pada tahun 2025 kemarin ini sudah turun di angka 12 orang. Sementara tahun ini kita targetkan kembali turun di angka 8 orang,” ujarnya.
Terkait keberadaan bank sampah, Rizqy menaruh harapan agar sampah di lingkungan masyarakat bisa terkelola dan terpilah dengan baik. Terutama pada bank sampah Askit di RT 63, ia berharap dengan kondisi warga yang merupakan tentara dengan status tidak menetap permanen, pihanya mencoba menyusun formulasi agar program bank sampah tetap bisa berkesinambungan, meski keanggotaan akan terus berganti.
”Di lingkungan ini kan warganya tentara yang tinggalnya tidak permanen. Pada tahun ini kita coba cari formulasinya, agar program bank sampah ini tetap bisa berjalan kontinyu dan berkesinambungan, meski nantinya anggota kader bank sampah berganti-ganti. Jika di tempat lain kondisinya berbeda, masyarakatnya menetap permanen karena diperkampungan, maka di sini kita coba dengan treatmen berbeda. Kita harapkan program bank sampah di RT ini bisa berhasil dan berkesinambungan,” tegasnya.
Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan juga telah memberikan sejumlah bantuan sarana dan prasarana penunjang bank sampah Askit. Mulai dari pengadaan drop box untuk sampah plastik, bak pemilah sampah, hingga drum komposter untuk membuat kompos dari sampah organik.
”Kita bantu sapras mereka, ada drop box dan lainnya. Kami juga coba mengakomodir setiap usulan program yang diajukan warga. Tentunya akan kita pilah sesuai urgensinya dan akan kita support hingga pembuatan rencana kerja mereka, hingga di tahun 2030 mendatang.” pungkas Rizqy.(Ibnu)










