![]()
KUTAI TIMUR – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) menggelar Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026, bertempat di Halaman Upacara Kantor Bupati Kutai Timur, Kawasan Bukit Pelangi, Sangatta, Kamis (1/10/2026). Bertindak sebagai inspektur upacara, Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, serta turut hadir anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kutai Timur dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kutim, Tejo Yuwono.
Ditemui wartawan usai kegiatan, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kutim, Tejo Yuwono menuturkan jika upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini merupakan satu dari tiga program yang dilaksanakan Badan Kesbangpol Kutim dalam upacara hari kenegaraan, setelah sebelumnya dilaksanakannya upacara peringatan Hari Lahir Pancasilan dan pada Bulan Desember mendatang, pihaknya kembali akan menggelar upacara peringatan Hari Bela Negara.
”Jadi upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini merupaka salah satu dari tiga program yang menjadi tanggung jawab Badan Kesbangpol Kutim, terkait upacara peringatan hari besar kenegaraan. Sebelumnya kita sudah menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila, dan pada bulan Desember nanti kita akan kembali menggelar upacara peringatan Hari Bela Negara,” ucap Tejo, Kamis (1/10/2026).
Lanjut Tejo, khusus peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini, ada dua sasaran generasi yang menjadi target. Dirinya menyebutkan, sasaran yang pertama adalah generasi yang saat ini masih dan ikut mengalami bukti Pancasila menjadi sakti.
”Bagi generasi yang saat ini mengalami Pancasila menjadi sakti, diharapkan tetap tidak melupakan bahwa memang dengan Pancasila bangsa ini masih punya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujarnya.
Sedangkan sasaran kedua, adalah generasi muda saat ini yang diakui Tejo paling sulit diberikan pemahaman terkait saktinya Pancasila. Pada generasi muda saat ini, tidak bisa hanya disodorkan cerita masa lalu, namun harus lebih pro aktif dengan pola kolaborasi kondisi di masa lalu dengan keadaan yang terjadi di jaman sekarang.
”Berkaitan dengan generasi muda, ini yang paling sulit. Kita harus kembali menampilkan model kesaktian Pancasila yang sesuai dengan perkembangan jaman. Tidak hanya sekedar cerita masa lalu tetapi coba dikolaborasikan dengan keadaan jaman sekarang untuk menciptakan satu tindakan program yang mungkin bisa menyentuh kepada mereka. Contoh, mungkin mereka dilibatkan dalam aksi lapangan yang bisa menyentuh perasaan mereka, tidak hanya sekedar sosialisasi yang selama ini sudah kita lakukan, cuma saya lihat kurang mengena dan lebih pas. Harus ada program yang lebih pragmatis,” jelas Tejo.
Menurut Tejo, Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober bukan sekadar seremoni, upacara, atau mengenang peristiwa sejarah. Bagi generasi muda saat ini, hari tersebut merupakan momentum untuk memahami, menjaga, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
”Di tengah perkembangan teknologi, arus informasi yang begitu cepat, serta tantangan perpecahan di masyarakat, Pancasila harus tetap menjadi pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak,” pungkasnya.(Adv/*/SK)







