Beranda kutim adv pemkab 139 Desa Kutim Dapat Rumah Digital, Kominfo Tunggu Desa Mengisinya

139 Desa Kutim Dapat Rumah Digital, Kominfo Tunggu Desa Mengisinya

0

Loading

KUTAI TIMUR – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tak ingin arus informasi pembangunan hanya berputar di pusat pemerintahan. Sebanyak 139 desa disiapkan memiliki ruang digital sendiri untuk menyampaikan kabar, menggali potensi, sekaligus memperkenalkan wilayahnya kepada masyarakat.

Fasilitas tersebut diwujudkan melalui website desa yang disiapkan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Diskominfo Perstik) Kutim. Setiap desa diberikan ruang untuk mengelola informasi sesuai karakter dan potensi masing-masing.

Kabid Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Perstik Kutim, Aji Nazarudin, mengatakan pihaknya telah melakukan pelatihan kepada operator desa agar mampu mengelola kanal digital tersebut.

“Sudah kita buatkan website untuk seluruh desa. Kita juga sudah melakukan pelatihan kepada seluruh operator,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, keberadaan website desa bukan sekadar formalitas atau tempat memajang berita kegiatan pemerintahan. Kanal tersebut justru disiapkan agar desa dapat bercerita tentang wilayahnya sendiri.

Mulai dari aktivitas pemerintahan, pembangunan, hingga potensi ekonomi dan wisata dapat dikemas menjadi informasi yang mudah diakses masyarakat.

Ia mencontohkan Pulau Miang. Potensi yang dimiliki wilayah tersebut dapat diperkenalkan melalui konten digital sehingga informasi mengenai daya tarik desa tidak hanya diketahui masyarakat setempat.

“Harapannya, masyarakat khususnya di setiap desa bisa mengakses dan mengembangkan serta mempromosikan desa mereka masing-masing,” ujarnya.

Konsep yang dibangun Diskominfo Perstik, menyerahkan ruang pengelolaan informasi tersebut kepada desa. Pemerintah kabupaten menyiapkan infrastrukturnya, sementara desa diharapkan aktif mengisi dengan konten yang relevan.

Ia mengibaratkan website tersebut seperti sebuah rumah yang sudah dibangun lengkap dengan ruang dan fasilitasnya. Desa tinggal mengisi rumah itu dengan informasi dan kreativitas mereka.

“Kita sudah siapkan rumahnya, kita siapkan kamar-kamarnya. Mereka yang isi, mereka yang desain dan mengisi di dalamnya,” jelasnya.

Tak hanya website, ruang digital desa juga dapat terhubung dengan kanal media sosial seperti TikTok, YouTube dan Instagram. Dengan begitu, informasi desa memiliki lebih banyak pintu untuk menjangkau masyarakat.

Pola tersebut penting agar informasi pembangunan dan potensi wilayah tidak terkonsentrasi di kawasan perkotaan atau hanya muncul melalui kanal pemerintah kabupaten.

Terlebih Kutim memiliki wilayah yang luas dengan karakter desa yang berbeda-beda. Desa yang berada jauh dari pusat pemerintahan pun memiliki kesempatan yang sama untuk memperkenalkan keunggulan wilayahnya.

Diskominfo Perstik juga menyebut akses internet di desa-desa Kutim telah terlayani. Fasilitas tersebut menjadi salah satu penunjang agar kanal digital yang telah disiapkan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Tapi, keberadaan platform digital tidak otomatis membuat informasi desa hidup. Menurut Aji, faktor paling menentukan justru kemauan pemerintah desa untuk mengelolanya.

“Kalau kepala desanya punya motivasi tinggi untuk membangun desanya, saya pikir pasti dia menggunakan ini,” ungkapnya.

Maka dari itu, website desa kini tidak hanya dipandang sebagai fasilitas teknologi, tetapi juga sebagai alat bagi pemerintah desa untuk memperkenalkan pekerjaan dan potensi wilayahnya langsung kepada publik.

Dengan pola tersebut, desa tidak lagi hanya menjadi objek pemberitaan. Desa diberi ruang untuk menjadi pihak yang menceritakan, mempromosikan dan menunjukkan sendiri apa yang mereka miliki.(Adv/*/SK)