Beranda kutim adv pemkab Jelang Usia 27 Tahun, Masyarakat Harapkan Pembangunan Kutai Timur Merata dan Mendekatkan...

Jelang Usia 27 Tahun, Masyarakat Harapkan Pembangunan Kutai Timur Merata dan Mendekatkan Akses Kesehatan

0

Loading

KUTAI TIMUR – Tanpa terasa, Kabupaten Kutai Timur kini akan memasuki usia ke-27 tahun, sejak dimekarkan pada tanggal 12 Oktober 1999. Tentunya berjuta do’a dan harapan menyertai di setiap langkah tumbuh dan berkembangnya daerah yang merupakan hasil pemekaran Kabupaten Kutai sebagai kabupaten induk kala itu.

Salah satu do’a dan harapan besar untuk Kabupaten Kutai Timur datang dari Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sangkulirang, dr. Azizah bin Smith. Ditemui wartawan di ruang kerjanya, Azizah menaruh harapan besar terhadap pengembangan pembangunan Kabupaten Kutai Timur di usia ke-27 tahun.

”Sebagaimana kita tahu bahwa Rumah Sakit Sangkulirang sudah mau mencapai usia 10 tahun dan Kabupaten Kutai Timur sudah mau mencapai usia ke-27 tahun. Jadi besar harapan kalau untuk rumah sakit ini, pembangunan itu kita bisa lakukan secara merata. Jadi di usia ke-27 tahun Kutai Timur, harapannya pembangunan terutama di bidang kesehatan itu betul-betul bisa merata dan tidak hanya terpusat di satu tempat,” ucap Azizah.

Lanjut Azizah, dengan pembangunan yang merata maka semua masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan secara dekat. Terlebih Kabupaten Kutai Timur merupakan daerah yang sangat luas. Untuk mencapai ibu kota kabupaten dari Kecamatan Sangkulirang saja sudah harus menempuh waktu selama 3 jam perjalanan. Belum lagi dari daerah pesisir yang lebih jauh dari Sangkulirang.

”Dengan pembangunan yang merata, maka semua masyarakat bisa benar-benar mendapatkan akses pelayanan kesehatan secara dekat. Kita tahu bersama bahwa Kutai Timur ini sangat luas, jadi akses untuk pergi ke ibukota kabupaten di Sangatta juga lumayan jauh. Dari Sangkulirang sendiri itu kurang lebih 3 jam, tapi kita masih ada wilayah terjauh kita yakni Kecamatan Sandaran,” ujarnya.

Harapan akan peningkatan dan pemerataan pembangunan Kabupaten Kutai Timur, bukanlah tanpa alasan. Bagi dokter yang mengabdi di daerah pesisir Kutim, Azizah merasakan persis bahwa masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir Kutai Timur, khususnya Kecamatan Sangkulirang, Sandaran, Kaliorang, Kaubun dan Karangan (SANGSAKA KAUKAR), benar-benar menaruh harapan pada Rumah Sakit Sangkulirang sebagai ”One Stop Solution”, sebagai salah satu rumah sakit yang dituju masyarakat.

”Jadi besar harapan, pembangunan Kutai Timur terutama di usia ke-27 tahun ini bisa lebih merata bisa lebih lengkap lagi, terutama daerah pesisir sehingga nanti masyarakat wilayah pesisir seperti di Kecamatan Sangkulirang, Sandaran, Kaliorang, Kaubun dan Karangan (SANGSAKA KAUKAR), betul-betul cukup lah Rumah Sakit Sangkulirang ini menjadi salah satu tempat Rumah Sakit yang dituju masyarakat pesisir. Jadi ketika nanti ada kebutuhan terkait dengan pelayanan kesehatan, Rumah Sakit Sangkulirang ini bisa menjadi ”One Stop Solution”. Jadi cukup sampai di Rumah Sakit Sangkulirang, Insyaa Allah seluruh atau sebagian besar dari keluhan atau penyakit dan juga masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat itu diselesaikan sampai di sini,” ucapnya.

Khusus bagi Rumah Sakit Sangkulirang yang juga akan mencapai usia 10 tahun, Azizah berharap pengembangan rumah sakit rujukan satu-satunya di daerah pesisir Kutim ini bisa dimaksimalkan jika memang ingin menjadi ”One Stop Solution” bagi maslaah kesehatan masyarakat pesisir Kutim. Terutama dalam penanganan kasus saraf dan jantung, pihaknya masih harus merujuk pasien ke rumah sakit di Sangatta.

”Tentunya kalau kita berharap Rumah Sakit Sangkulirang bisa menjadi ”One Stop Solution”, tentunya banyak pengembangan yang harus dilakukan. Ketika Rumah Sakit Sangkulirang bisa memiliki banyak sekali pelayanan, lengkap, terjamin, akurat tentunya kita bisa memangkas waktu yang begitu banyak bagi masyarakat pesisir yang perlu pelayanan medis. Karena untuk mencapai Rumah Sakit Sangkulirang saja, masyarakat yang ada di lima wilayah kerja kami itu sudah kesulitan, apalagi jika harus dirujuk lagi ke Sangatta. Terlebih dalam penanganan kasus jantung dan saraf, kami masih harus merujuk pasien ke rumah sakit di Sangatta untuk mendapatkan perawatan intensif,” pungkas Azizah.(Adv/*/SK)