Beranda kutim adv pemkab Sulastin: Titik Hotspot Berangsur Berkurang, Tersebar di Kecamatan Namun Bisa Diatasi

Sulastin: Titik Hotspot Berangsur Berkurang, Tersebar di Kecamatan Namun Bisa Diatasi

0

Loading

KUTAI TIMUR – Kepala Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur, Sulastin menyebutkan jika sejumlah titik api atau hotspost kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kutai Timur, secara bertahap kini mulai berkurang. Hal ini disampaikan Sulastin saat ditemui wartawan, Rabu (9/9/2026).

”Alhamdulillah, Karhutla ini titik api atau hotspot mulai berkurang. Dari 57 titik api, hingga pengecekan tadi malam (Selasa, 8 Sepetember 2026, red), sudah berkurang menjadi 49 titik api. Biasanyakan setiap lokasi Karhutla itu ada 2-3 titik api, sekarang hanya satu titik api,” ucap Sulastin.

Berdasarkan laporan tim lapangan pada Selasa (8/9/2026), Sulastin menyebutkan ada beberapa wilayah yang terjadi Karhutla. Yakni Kecamatan Sangatta Selatan dan di Kecamatan Muara Ancalong, yang dilaporkan ada beberapa kejadian namun tidak terlalu signifikan dan bisa diatasi.

”Alhamdulillah, laporan dari tim lapangan, tadi malam ada kejadian (Karhutla, red) di Kecamatan Sangatta Selatan dan Kecamatan Muara Ancalong, tetapi tidak terlalu signifikan dan bisa diatasi hasil kolaborasi semua tim dengan beberapa pihak,” sebutnya.

Diakui Sulastin, jika kasus Karhutla terbanyak di Kutim hingga saat ini masih didominasi kejadian di Kecamatan Sangatta Utara dan Kecamatan Sangatta Selatan, yang tercatat hampir setiap hari selalu ada kasus Karhutla. Hal ini diperparah pada kedua kecamatan tersebut merupakan area pertambangan batu bara. Sehingga sebelum terjadinya El-Nino, sudah mencatatkan titik hotspot, terlebih setelah terjadinya El-Nino.

”Kasus Karhutla terbanyak di Kutim hingga saat ini masih didominasi kejadian di Kecamatan Sangatta Utara dan Kecamatan Sangatta Selatan, yang tercatat hampir setiap hari selalu ada kasus Karhutla. Diperparah lagi di kecamatan Sangatta Utara dan Selatan ini kan merupakan area pertambangan batu bara. Sehingga sebelum terjadinya El-Nino, sudah mencatatkan adanya titik hotspot, terlebih setelah terjadinya El-Nino,” jelasnya.

Sulastin kembali mengingatkan dan menghimbau kepada seluruh masyarakat Kutim, untuk bersama-sama mencagah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kutai Timur, dengan tidak melakukan kegiatan pembukaan ladang dengan cara membakar lahan, serta ikut mencegah jangan sampai ada oknum warga yang tidak bertangung jawab melakukan pembakaran lahan secara sengaja.

”Ayo kita jaga daerah kita, jangan sampai ada kebakaran hutan dan lahan. Jangan sengaja membakar lahan hanya untuk membuka ladang. Selain akan berhadapan sengan aparat penegak hukum, tentunya tindakan membakar lahan akan sangat merugikan bagi semua, baik itu berimbas buruknya pada ekonomi, lingkungan dan juga kesehatan,” tutup Sulastin.(Adv/*/SK)