![]()
KUTAI TIMUR – Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi mengajak masyarakat Kutai Timur untuk bersama-sama menjaga lahan milik masyarakat agar tidak terbakar. Hal ini disampaikan Mahyunadi usai mengikuti sholat Istisqa’ atau sholat minta turun hujan di Lapangan Upacara Kantor Bupati Kutim, Kawasan Bukit Pelangi, Sangatta, Rabu (9/9/2026).
Kepada wartawan yang menemuinya, Mahyunadi menghimbau kepada masyarakat Kutai Timur untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam aktivitas pembukaan lahan pertanian atau perkebunan, terutama pada musim kemarau saat ini. Dirinya memastikan aparat penegak hukum akan bertindak tegas terhadap upaya atau aktivitas pembakaran lahan secara sengaja sehingga menyebabkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
”Di Kutim sudah ada beberapa yang terciduk melakukan pembakaran lahan dan saat ini sudah dalam penanganan aparat penegak hukum. Memang di tempat kita ini tidak ada Peraturan Daerah (Perda) terkait kearifan lokal tentang membakar lahan, makanya kita ikuti aturan hukum positif yang ada. Namun saya menghimbau kepada masyarakat, khususnya pada musim kemarau ini, jangan melakukan aktivitas membakar lahan,” ucapnya.
Tidak hanya menghimbau untuk tidak membakar lahan, namun Mahyunadi juga mengajak masyarakat untuk menjaga agar lahan mereka tidak terbakar.
”Bukan hanya jangan membakar lahan, tapi saya juga menghimbau agar masyarakat juga menjaga agar lahan-lahan yang mereka miliki tidak terbakar. Kondisi ini mungkin saja terjadi ya, karena kondisi kekeringan dan ditambah teriknya sinar matahari, bisa saja tiba-tiba lahan terbakar. Terlebih sebagian tanah-tanah kita ini kan mengandung batu bara. Karenanya mari kita menjaganya bersama,” tegas Mahyunadi.
Dikatakan, jika berkaca pada kondisi kemarau yang pernah dialami Kutai Timur sebelumnya, yakni di tahun 1997 dan 2015, maka kondisi kemarau yang terjadi saat ini menurut Mahyunadi belum seberapa parah. Mengingat pada kedua tahun tersebut, selain Kutai Timur mengalami kekeringan yang cukup ekstrim, juga intensitas kasus Karhutla yang cukup tinggi. Bahkan hampir sebagian besar area hutan yang ada di kawasan Bukit Pelangi yang menjadi kawasan Perkantoran Pemerintah Kutai Timur, terbakar habis.
”Klo kita lihat kondisi kemarau saat ini, maka sebenarnya belum seberapa parah jika dibandingkan kondisi kemarau yang pernah dialami Kutai Timur di tahun 1997 dan 2015 lalu, hampir semua hutan di Bukit Pelangi ini terbakar habis. Kamarau juga terjadi hingga bulan Desember, lebih dari empat bulan. Namun kita tetap berdo’a dan memohon kepada Allah agar kemarau yang terjadi saat ini tidak panjang dan segera diturunkan hujan yang merata di wilayah Kutai Timur. Mari kita sama-sama berdo’a, bermunajat kepada Allah sembari memohon ampunan dan bertaubat atas dosa-dosa yang sudah kita lakukan selama ini, agar Allah segera menurunkan Rahmat-Nya buat masyarakat dan daerah Kutai Timur,” pungkasnya.(Adv/*/SK)







