Beranda ekonomi UMKM dan Kakao Lokal Didorong Jadi Penopang Wisata Berau

UMKM dan Kakao Lokal Didorong Jadi Penopang Wisata Berau

0
ilustrasi gambar by AI
ilustrasi gambar by AI

Loading

Berau – “UMKM bukan hanya pelengkap, tapi tulang punggung ekonomi daerah.” Ungkapan ini menggambarkan keyakinan kuat Syarifatul Sya’diah, anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur, terhadap peran vital sektor UMKM dan kakao dalam mendukung geliat pariwisata di Kabupaten Berau.

Syarifatul menilai bahwa penguatan UMKM dan hilirisasi komoditas kakao dapat menjadi tumpuan ekonomi lokal di tengah keterbatasan. Menurutnya, selama pandemi COVID-19, sekitar 15 ribu UMKM tumbuh di Berau, bahkan saat sektor ekonomi lain mengalami tekanan berat.

“UMKM di Berau luar biasa. Saat pandemi, justru banyak yang bertahan bahkan tumbuh, dengan beralih ke sistem online,” ujarnya beberapa waktu lalu di Gedung DPRD Kaltim.

Ia menyebut, daya tahan dan adaptasi cepat para pelaku UMKM menunjukkan bahwa sektor ini memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.

Seiring berkembangnya sektor pariwisata, UMKM lokal yang memproduksi makanan khas, kerajinan, dan oleh-oleh semakin dibutuhkan untuk melengkapi pengalaman wisatawan. Ia menekankan pentingnya peran UMKM sebagai penggerak ekonomi kreatif yang sejalan dengan pengembangan destinasi wisata.

“Harapan kami, UMKM bisa menjadi mitra utama pariwisata. Wisatawan tentu mencari produk otentik, dan itu bisa diberikan oleh masyarakat Berau,” tambahnya.

Politisi Golkar itu juga mendorong kolaborasi lintas pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga perusahaan besar, untuk menciptakan ekosistem UMKM yang berkelanjutan.

Lebih lanjut, Syarifatul mengungkapkan bahwa kakao lokal kini menjadi komoditas unggulan Berau yang mulai dikenal luas, bahkan hingga ke luar negeri. Produk olahan coklat lokal bernama Coklat Kulanta menjadi contoh sukses sinergi antara masyarakat dan dunia usaha, dengan dukungan PT Berau Coal dalam proses hulu ke hilir.

“Coklat Kulanta ini membuktikan bahwa produk lokal bisa menembus pasar global jika dikelola dengan baik,” jelasnya. Ia juga membandingkan potensi kakao dengan sawit yang selama ini mendominasi sektor perkebunan, namun memiliki dampak lingkungan lebih berat.

Ia mengajak masyarakat untuk membuka diri terhadap diversifikasi tanaman lokal yang lebih ramah lingkungan dan punya nilai ekonomi tinggi.

“Ekonomi daerah akan lebih kuat jika tumbuh dari potensi yang dimiliki rakyat sendiri,” tandasnya.

Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, penguatan UMKM dan pengembangan hilirisasi kakao diharapkan menjadi dua pilar utama yang menopang pertumbuhan pariwisata dan ekonomi berkelanjutan di Berau. (ADV).