![]()
Kutai Timur – Di Lapangan Bola Desa Diaq Lay, Kecamatan Muara Wahau, suara gong, langkah tari, dan doa-doa adat masyarakat Dayak Wehea di Kutai Timur berpadu dalam satu ruang yang sakral. Pesta adat Mbob Jengea Puen Wehea atau yang lebih dikenal Lomplai kembali digelar di Desa Diaq Lay. Perayaan ini menjadi bentuk ungkapan syukur masyarakat Dayak Wehea atas hasil panen padi yang bagi mereka bukan sekadar pangan, melainkan anugerah yang memiliki dimensi spiritual.
Bagi masyarakat Dayak Wehea, padi dipercaya sebagai titipan dari Pueh Metuah atau Tuhan Yang Maha Kuasa dan Long Diang Yung atau dewi padi yang menjaga kesuburan alam. Karena itu setiap panen tidak berhenti di lumbung, tetapi berlanjut menjadi rangkaian ritual syukur dan penyucian diri agar kehidupan tetap berada dalam keseimbangan.
Di balik perayaan itu tersimpan keyakinan bahwa alam bukan hanya ruang hidup, tetapi juga ruang spiritual yang harus dijaga keharmoniannya. Mbob Jengea menjadi cara masyarakat mengingat kembali relasi tersebut bahwa manusia, tanah, dan leluhur berada dalam satu siklus yang saling terhubung.
Rangkaian ritual dimulai jauh sebelum puncak acara. Melalui musyawarah adat Ngalak Plai, para tetua menentukan waktu pelaksanaan dan memandu warga dalam menyiapkan seluruh kebutuhan upacara. Dari ketan yang dibungkus daun pisang (lemang) hingga perlengkapan pakaian adat dan perlengkapan tarian, semuanya disiapkan secara gotong royong yang menandai bahwa tradisi ini hidup dari kebersamaan.
Pada tahap berikutnya, desa dibersihkan secara lahir dan batin. Masyarakat memohon izin kepada leluhur agar seluruh rangkaian berjalan tanpa hambatan. Di saat yang sama Belanyung didirikan di tengah desa, sebuah tiang kayu berhias yang menjadi simbol keagungan sekaligus tempat persembahan dalam kosmologi adat Wehea.
Tak lama setelah itu para tokoh adat bersama pemuda desa melakukan Ngalak Pesat atau ritual pengambilan air suci dari sungai. Air tersebut menjadi bagian penting dalam ritual penyucian yang kemudian dipercikkan kepada warga sebagai lambang pelepasan dari segala hal buruk yang mungkin menyertai selama masa tanam hingga panen.
Puncak perayaan kemudian menghadirkan berbagai tarian adat yang sarat makna. Tari Hudoq tampil dengan topeng kayu yang menggambarkan roh atau hama namun sekaligus menjadi simbol perlindungan bagi tanaman. Dalam geraknya tersirat upaya masyarakat untuk menjaga hasil bumi dari gangguan alam yang tak kasat mata.
Sementara Tari Tung Gereng yang dibawakan oleh para perempuan Dayak Wehea menghadirkan suasana berbeda. Gerakannya yang lembut dan serempak menjadi gambaran kebersamaan dan kegembiraan yang tumbuh di tengah masyarakat. Di sisi lain ritual Pekicung menjadi puncak ungkapan syukur saat persembahan disusun di atas rakit sebagai bentuk penghormatan kepada dewi padi.
Di balik rangkaian ritual yang berlangsung sepanjang hari itu, Lomplai tidak hanya dimaknai sebagai perayaan panen, tetapi juga sebagai cara masyarakat Dayak Wehea menjaga warisan adat yang terus hidup lintas generasi. Kepala Adat Kutai Timur Sung Hei, menyampaikan ucapan selamat atas pelaksanaan Lomplai 2026 kepada seluruh masyarakat adat Wehea serta jajaran Pemerintah Kabupaten Kutai Timur.
“Kami, selaku Tokoh Masyarakat Adat Wehea, pada kesempatan yang penuh sukacita ini mengucapkan Selamat Merayakan Lomplai 2026 kepada seluruh masyarakat adat Wehea serta jajaran pimpinan di Pemerintah Kabupaten Kutai Timur,” ujar Sung Hei.
Ia juga menjelaskan bahwa prosesi yang berlangsung di Desa Diaq Lay tersebut merupakan bagian dari kegiatan adat Mbob Jengea yang menjadi rangkaian dari Lomplai serta memiliki makna penting dalam kehidupan masyarakat adat Wehea.
“Prosesi yang dilakukan oleh desa diaq lay sore hari ini, pada hari ini kitab isa melaksanakan kegiatan adat mbob jengea yang pada dasarnya ada suatu kisi atau proses yaitu Lomplai,” katanya.
Menurutnya, kegiatan adat tersebut merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Wehea yang bersifat religius sekaligus menjadi bentuk perjuangan dalam menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Di tengah upaya masyarakat menjaga warisan adat tersebut, PT Karyanusa Ekadaya (KED) turut memberikan dukungan terhadap pelestarian tradisi masyarakat adat Dayak Wehea di Desa Diaq Lay. Manajemen PT KED M. Satria A.C.P., memandang Lomplai sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat adat Dayak Wehea yang terus dijaga di Kutai Timur.
“Sebagai bagian dari komunitas yang bertumbuh bersama masyarakat di wilayah Kutai Timur, kami memandang kegiatan ini bukan sekadar seremoni musiman, melainkan fondasi identitas yang memperkuat keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” ujar Satria.
Menurutnya, perusahaan berkomitmen untuk terus menjalin sinergi dengan tokoh adat, pemerintah desa, serta perangkat keamanan guna memastikan setiap kearifan lokal tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Komitmen tersebut sejalan dengan semangat sinergi bumi dan manusia untuk satu Indonesia yang tercermin melalui upaya perusahaan dalam menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat adat di sekitar wilayah operasional.
“Kami mengucapkan selamat merayakan pesta panen kepada warga Desa Diaq Lay. Semoga semangat gotong royong yang tercermin dalam rangkaian ritual ini dapat terus mempererat tali silaturahmi antara perusahaan dan masyarakat,” ucapnya.
Ia juga berharap melalui perayaan ini, berkah panen yang berlimpah dapat memberikan kemakmuran bagi seluruh warga, dan nilai-nilai luhur Dayak Wehea dapat terus terpancar sebagai kebanggaan daerah.(*/Red-SK)










